Kesanggupan kami, menjadi pelayan-pelayan untuk menghantar Anda dalam Perjalanan Ziarah, mengunjungi tempat-tempat dimana Bunda Maria menampakkan diri dan juga Gereja-Gereja Kudus-Nya, sehingga membuat Anda mengalami Perjumpaan dengan Allah, bukanlah karena hebatnya kami. 

"KESANGGUPAN KAMI ADALAH PEKERJAAN ALLAH"
(2 KOR 3:5)

Ziarah Rohani

donum DeiZiarah merupakan salah satu tindakan konkrit untuk memanifestasikan iman Kristen kita dalam ranah publik (maksudnya secara terbuka, dihadapan umum). Dalam sebuah perjalanan ziarah, kita secara terbuka menyatakan iman kita bahwa kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya merupakan suatu proses peziarahan menuju ke tanah air surgawi, yang merupakan persinggahan akhir dalam hidup kita, selain itu ziarah juga merupakan ungkapan nyata akan iman kita bahwa “Yang Ilahi telah masuk ke ruang dan waktu manusia”. Ziarah sebagai suatu latihan rohani, sudah dikenal sejak awal mula agama Kristen. Mulanya orang gemar berziarah ke Tanah Suci, khususnya ke tempat-tempat yang berhubungan dengan sengsara dan kebangkitan Tuhan. Pendirian Basilika Makam Suci (yang oleh orang-orang Kristen Yunani disebut sebagai “Basilika Kebangkitan”) merupakan tanda akan suburnya minat untuk berziarah ke Tanah Suci pada masa lampau. Selain Tanah Suci, kota Roma juga menjadi tempat yang diminati sebagai tujuan peziarahan.

Peziarahan ke Roma biasanya diarahkan kepada kunjungan ke makam Rasul Santo Petrus dan Paulus, serta kunjungan kepada Uskup Gereja Roma yang merupakan pengganti Petrus sebagai pimpinan Dewan Para Uskup. Yang terakhir ini biasanya dilakukan dengan mengunjungi Basilika Agung Penyelamat Mahakudus dan Santo Yohanes Pembaptis di Jalan Lateran yang merupakan Katedral Keuskupan Roma dan karena itu merupakan gereja ‘milik’ Paus sendiri (sementara itu Basilika Santo Petrus di Vatikan adalah ‘milik’ para Patriarkh Konstantinopel). Akhirnya, peziarahan juga dihubungkan dengan Santa Perawan Maria, bahkan dewasa ini sekitar 80% dari tempat-tempat peziarahan yang ada selalu dihubungkan dengan Santa Perawan Maria. Dalam artikel ini, kami akan memberikan beberapa tips agar peziarahan yang Anda lakukan dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan buah rohani yang melimpah.

1. Pilihlah Ziarah yang Cocok Bagi Anda

Pada prinsipnya kita dapat membagi perjalanan ziarah menjadi dua kelompok, yaitu perjalanan ziarah yang jauh dan mahal, serta perjalanan ziarah yang dekat dan murah. Pilihan pertama adalah mengunjungi tempat-tempat ziarah yang cukup jauh (entah itu di dalam atau di luar negeri). Biasanya perjalanan ini memakan waktu satu minggu atau lebih. Dalam perjalanan ziarah ini anda dapat mengunjungi Tanah Suci, Basilika-basilika Patriarka di Roma, atau tempat-tempat ziarah seperti Lourdes, Fatima, atau Guadalupe yang merupakan tempat Bunda Maria pernah menampakkan diri. Selain itu anda juga dapat mengunjungi Czestochowa di Polandia tempat ditakhtakannya sebuah ikon Bunda Maria yang terkenal dan kerap dikunjungi baik oleh orang Katolik dan Ortodoks. Dalam peziarahan yang jauh semacam ini,cobalah untuk mengajak anggota-anggota keluarga, sahabat-sahabat ataupun anggota-anggota Paroki (atau anggota komunitas yang di dalamnya anda aktif) supaya bergabung dengan anda. Hendaklah anda juga bekerja sama dengan lembaga tur Katolik yang cukup baik. Lembaga tur yang baik pasti akan memberikan anda gambaran akan biaya-biaya, akomodasi, dan transportasi. Perjalanan ziarah semacam ini memang baik dan suci, bila anda memiliki uang dan waktu untuk mengadakannya. Sungguh tidak bijak jika ‘ngutang sana-sini’ demi mengadakan ziarah yang jauh dan mahal semacam ini. Maka, jika keuangan anda terbatas sebaiknya Anda memilih perjalanan ziarah yang dekat dan murah saja.

Perjalanan ziarah yang dekat dan murah dapat dilakukan dengan banyak cara. Misalnya dengan mengunjungi Sakramen Mahakudus di paroki anda sendiri dan meluangkan waktu sekurangnya satu jam berdoa di sana, atau mengunjungi Gereja Katedral dan mengucapkan doa-doa seperti Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, serta berdoa bagi intensi Uskup anda. Anda juga bisa mengunjungi berbagai gua Maria dan berdoa Rosario secara penuh di sana. Semua tindakan ziarah yang kami sebutkan ini adalah tindakan-tindakan yang mendatangkan indulgensi penuh jika dilakukan dengan memenuhi syarat lainnya, yaitu bebas dari dosa berat dan ringan serta memiliki semangat tobat yang tulus (maka mengaku dosalah sebelum berziarah), menerima Komuni Suci, dan berdoa bagi intensi-intensi Paus (jika anda tidak mengetahui intensi beliau untuk bulan ini, maka satu kali Bapa Kami dan Salam Maria dianggap mencukupi untuk menggantikannya). Maka, secara rohani tidak ada perbedaan yang mendasar antara ziarah yang murah dan yang mahal. Andadapat memilih mana perjalanan ziarah yang sesuai dengan keadaan finansial anda sendiri.

Untuk membantu anda lebih memaknai makna ziarah, sebaiknya anda memilih waktu yang cocok untuk peziarahan anda sesuai liturgi Gereja. Misalnya pada hari-hari seperti Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda (8 Desember), Maria Menerima Kabar Sukacita (25 Maret), Maria Diangkat ke Surga (15 Agustus) digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat ziarah Maria. Jika anda tidak bekerja pada hari Sabtu Anda dapat menggunakan waktu luang di hari ini, untuk mengunjungi tempat-tempat ziarah Maria, sebab secara tradisional hari Sabtu merupakan hari yang didedikasikan bagi Maria. Begitu juga anda dapat mengunjungi Gereja Katedral sebagai tujuan ziarah, misalnya pada Pesta Pelindung Gereja Katedral atau pada peringatan penahbisan Uskup setempat.

Sebaiknya diusahakan agar anda dapat menerima Sakramen Tobat dan mengikuti Perayaan Ekaristi dalam perjalanan ziarah Anda. Gunakanlah waktu anda untuk berdoa sebaik mungkin. Gunakanlah perjalanan ziarah anda untuk sungguh-sungguh mengalami kemesraan dengan Allah dan semua orang kudus-Nya. Maka hendaknya kesempatan ini sungguh-sungguh dipakai sebagai waktu doa. Anda dapat berdoa Rosario, membaca Kitab Suci, mengucapkan Ibadat Harian, berdoa hening, serta berbagai bentuk latihan rohani lain yang anda anggap cocok bagi diri anda. Dengan cara ini kita dapat sungguh mengharapkan buah rohani yang melimpah sebagai hasil dari perjalanan ziarah kita.

2. Perbekalan Seringan Mungkin

Yesus pernah menasihatkanpara murid-Nya supaya tidak membawa lebih daripada sepasang kasut dan sehelai jubah. “Perbekalan seringan mungkin” (Travel light) selalu merupakan semboyan para peziarah. Orang-orang Kristen pada zaman abad pertengahan biasanya memakai jubah dan perlengkapan ziarah mereka yang khusus. Topi dengan tudung yang lebar untuk menahan hujan dan sinar matahari. Jubah panjang terusan seperti yang biasa dipakai Yesus. Kantung yang disandangkan di pundak yang memuat perbekalan. Dan sebuah tongkat panjang untuk melengkapi seragam musafir yang bersahaja.

Dalam perjalanan ziarah, seorang peziarah mencoba untuk belajar menghayati ‘kemiskinannya’ di hadapan Allah. Ia mencoba menyadari bahwa sesungguhnya segala harta yang ia miliki bukanlah miliknya melainkan pemberian Allah, dan bahwa ia sesungguhnya hanya hidup dari belas kasihan dan kemurahan hati Allah. Maka, tidak heran jika pada masa-masa lampau ada banyak sekali orang-orang kaya yang pergi berziarah tanpa membawa ongkos perjalanan. Di perjalanan mereka ‘memaksa diri’ mengemis untuk makan, dan memohon belas kasihan agar diberi tumpangan untuk tidur (bayangkanlah bagaimana mereka sungguh-sungguh merendahkan diri untuk itu!).

Praktik abad pertengahan itu, mungkin sudah tidak masuk akal untuk dijalankan di zaman kita, apalagi jika kita berziarah ke luar negeri. Namun, prinsip yang mendasarinya harus tetap dipertahankan. Maka, dalam perjalanan ziarah, bawalah hanya sebatas apa yang anda perlukan. Usahakan untuk berjalan kaki sejauh anda mampu, sepanjang situasi dan kondisi aman dan memungkinkan. Janganlah membawa radio atau tape, dan tinggalkan pager atau handphone di rumah. Tinggalkan semua kenyamanan rumah di rumah. Cobalah untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan dan yakinlah bahwa kebutuhan anda pasti akan diselenggarakan-Nya. Selain itu, dengan membawa sedikit mungkin barang, anda akan mengalami lebih sedikit distraksi (pelanturan). Anda akan lebih mudah untuk memfokuskan diri pada tujuan anda dan pada alasan perjalanan ziarah anda.

3. Bergabunglah dengan Kelompok Peziarah

Hindarkan ‘godaan’ untuk pergi solo atau seorang diri. Memang bila pergi sendirian tampaknya hal ini lebih mudah, namun suatu perziarahan akan paling berhasil dicapai bila dilakukan dalam suatu persekutuan orang-orang yang seiman. Coba renungkan perjalanan Maria dan Kanak-kanak Yesus saat perjalanan mereka. Dalam zaman itu, bangsa Yahudi biasanya melakukan perjalanan ziarah tiga kali dalam satu tahun dan Nazaret menuju Yerusalem untuk merayakan hari suci. Dan perjalanan itu memakan waktu tiga hari dalam satu kali perjalanan (jadi pulang pergi minimal memakan waktu 6 hari). Mereka biasanya bersukaria bersama dalam perjalanan mereka, seraya berjalan kaki mereka benyanyi-nyanyi ataupun bercakap-cakap, saling mendukung dan menguatkan untuk mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah.

Bahkan bila anda hanya pergi ke luar kota untuk berdoa Rosario di gereja-gereja paroki di depan patung Bunda Maria, undanglah seorang sahabat untuk menemani anda. Alangkah baiknya bila anda bisa pergi sekeluanga. Ajaklah anak-anak yang sudah mengenal sedikit tentang Rosario. Atau undanglah keluarga lain untuk pergi bersama. Berdoalah Rosario secara bersama-sama dalam kelompok selama perjalanan anda. Ini akan menjadi waktu yang begitu berhanga dan penuh berkat.

4. Pergilah sebagai Seorang Peziarah, Bukan Seorang Turis

Dokumen Vatikan tentang perziarahan menegaskan: “Elemen tertentu yang membedakan perziarahan dan turisme adalah bersifat simbolis.” Turisme merupakan perjalanan untuk rekreasi, sedangkan perziarahan merupakan perjalanan iman. Ziarah melambangkan pertobatan, dan pertobatan adalah suatu proses untuk terus berjalan maju secara rohani. Singkatnya, seorang peziarah adalah seorang yang terus berjalan. Perubahan batin, berkembangnya iman, dan penyembuhan rohani, inilah yang menjadi tujuan dan suatu ziarah.

Sementara berjalan dalam perziarahan anda, berdoalah. Kadangkala baik juga bila anda memisahkan diri dari kelompok untuk menyendiri agar suasana doa di batin anda terpelihara. Carilah suatu sudut yang sepi dan hening, sendirilah di sana selama kurang lebih setengah jam sambil merenung dan berdoa. Cobalah untuk mendengarkan desiran suara angin yang lembut atau arahkan perhatian pada hati anda untuk mendengarkan suara Tuhan yang berbicara lembut di kedalaman lubuk jiwa. Dengan cara beginilah nabi Elia akhirnya dapat menangkap suara Allah. Nabi Elia telah berusaha mendengarkan Dia di dalam kebisingan dan kekerasan suasana yang ada di gunung Horeb. Allah ternyata tidak ada di dalam angin badai, tidak juga di dalam bumi yang bergoyang ataupun dalam api. Allah hadir dalam keheningan dan kesunyian. Keheningan adalah takhta-Nya. Karenanya janganlah pergi ziarah dengan jadwal yang rumit. Sederhana saja! Tekanlah segala keinginan untuk berbelanja atau bermewah-mewah entah itu dalam perbekalan ataupun dalam hal makanan. Akhirnya, selamat mengadakan perjalan ziarah.

[Disadur dan majalah “New Covenant” bulan Mei 1999, artikel: “Make It for Mary Plan a Pilgrimage to Mark Your Jubilee, by Catherine M. Odell. Artikel asli menjelaskan mengenai ziarah menjelang Yubileum Agung dan disadur oleh Rm. Maximilian Kerit untuk dimuat dalam Majalah Hidup Dalam Roh edisi September-Oktober 1999, kemudian diolah kembali oleh Daniel Pane untuk dimuat di situs carmelia.net]